Ininnawa Gajang, Riwayat MAGIS yang Tak Pernah Sungguh-Sungguh Tunduk

Ininnawa Gajang, Riwayat MAGIS yang Tak Pernah Sungguh-Sungguh Tunduk

Ini adalah bocoran dari salah satu labirin ingatan: Ujung Pandang 1971-1999. Jangan ke mana-mana, karena cerita kita masih panjang. Agar tidak tersesat, mari bicara tentang GAJANG. 

Riwayat Gajang (baik itu bernama bessi, badik, kawali, dan lainnya) di tangan orang Makassar-Bugis (MAGIS) tak pernah sekadar riwayat sebilah logam. Ia riwayat sebuah jiwa, yang dipertaruhkan, dirampas, dikebiri, lalu diam-diam tumbuh kembali dalam wujud yang sama sekali lain [1].

Pada zaman La Galigo, badik itu turun bersama manusia pertama dari langit, semacam taruhan yang dititipkan Sang Pencipta agar dunia tengah (Ale Lino) tak runtuh oleh kekacauannya sendiri. 

"Patotoqé pun menoleh sambil membuka ikatan keris agung taruhan jiwanya melilitkannya ke pinggang langsing, anak sibiran tulangnya ditanggalkannya pula ikat kepala...".  La Galigo Jilid 1, Halaman 116.

Senjata di tangan tokoh-tokoh epik itu seperti punya napas sendiri; ia bisa mengamuk tanpa diperintah, menuntut darah ketika siri' terkoyak, menggariskan takdir di luar perhitungan akal (nawa-nawa). 

"Engkau ambil juga wahai tuanku, kelewang warisan pemotong tembuni pontoh besar pemutus tembuni... Kalau engkau juga sedang terdesak di dalam peperangan, hunuslah kelewang itu akan mengamuk sendiri."  La Galigo Jilid 11, Halaman 81.

Manusia dan badik belum dua hal terpisah, mereka satu tubuh kosmis.

“...kaca pecah biji matanya, bara diaduk di dalam dadanya, berdiri muncul bulu keningnya menggigit bibir bawahnya, menegangkan lengannya, menampar tikar keemasan yang diduduki, menekan hulu keris andalannya menghunus kerisnya keluar - buatan orang matasolok berukir, melompat dan menumpu lantai keemasan di hadapan orang yang disembah pajung kemilau manurung itu." La Galigo Jilid 7, Halaman 18.

Sekali lagi, tiga kutipan di atas  berbicara dalam satu suara: manusia dan badik bukan dua hal yang saling menggenggam, melainkan satu tubuh yang bergerak bersama. Ketika tatanan retak, keduanya merespons bukan atas perintah, melainkan atas kesadaran yang sudah menyatu sejak lama.

Kemudian datang Islam, kemudian datang Kompeni. Gowa-Tallo tumbuh menjadi kerajaan yang menguasai garis pantai, dan badik berpindah tangan: dari pinggang para bissu ke ikat pinggang para syekh. 

Syekh Yusuf membawanya ke Banten. Di Selon (tempat ia diasingkan), ia menyusun "wangkang" sebagai armada perlawanan, dari risalah, surat, dan ajaran yang sanggup menyeberangi laut tanpa tiang layar. Nalar duniawi (nawa-nawa) ia luruhkan, dan semesta ia biarkan digerakkan oleh tauhid (ininnawa), sesuatu yang tak punya nilai tukar di meja Kompeni [2]. Gajang di Banten, Makassar, dan tempat lainnya di Nusantara tetap terhunus, bukan untuk menebas, melainkan sebagai pernyataan siri' yang menolak diinjak-injak. 

Di Cape Town. Di sana, energi yang dulu menghunus gajang telah beganti. Kini, tubuhnya sendiri yang berfungsi sebagai badik. Nawa-nawa dibasuh ininnawa [3]. Membuatnya  jernih. Logam fisiknya disarungkan kembali. Itu bukan tanda menyerah, tetapi tanda bahwa perlawanan sudah berpindah ke tempat yang lebih dalam dari kulit. Di tanah jauh itulah sompeq melahirkan peradaban yang merentang dari satu benua ke benua lain.

Kembali ke ingatan tahun 1669. Perjanjian Bongaya. Di sini kalimat-kalimat lampau membuat orang MAGIS tertegun lama.  

"Pertama kali aku menyerahkan badikku di Somba Opu, kedua kalinya di Demung (Malang), dan kini untuk ketiga kalinya…Haruskah aku membiarkan kekalahan datang lagi." 

Kekalahan yang berlapis-lapis, penyerahan yang tak pernah benar-benar selesai. Dari trauma itulah lahir sompeq, perantauan abadi orang MAGIS. Sebagaimana ditunjukkan Syekh Yusuf di atas. Mereka membawa badik dan luka ke seluruh nusantara karena tanah sendiri sudah tak sanggup menampung kehormatan yang patah.

Yang lebih pedih barangkali bukan kekalahan kolonial, melainkan apa yang terjadi sesudahnya. Tahun 1971 nama Makassar dihapus, diganti Ujung Pandang: sebuah operasi simbolik yang menandai mulai bekerjanya mesin penyeragaman Orde Baru. 

Kahar Muzakkar lebih dulu memburu para bissu dengan tafsir pemurnian; negara meneruskan lewat Operasi Taubat, memaksa para bissu menjadi "laki-laki normal" atau dicap PKI. Arajang dihancurkan, pusaka kerajaan dirampas dari konteksnya, dan membawa badik di muka umum berubah menjadi tindak pidana. 

Tubuh kebudayaan dikebiri pelan-pelan, dan kebudayaan yang tak punya tubuh lalu mencari pelarian: orang-orang naik ke Bawa Karaeng mencari Tuhan di puncak gunung, karena Tuhan di kaki gunung sudah terlalu sering dipinjam negara.

Hari ini Makassar sudah kembali memakai namanya sendiri, dan badik telah pindah ke balik kaca lemari, ke gantungan kunci, ke cinderamata pernikahan. 

Tapi siapa yang menyangka justru di sanalah Gajang menemukan reinkarnasinya yang paling kuat, bukan sebagai logam, melainkan sebagai cara orang MAGIS menafsirkan dunia. 

Ketajaman badik sekarang dipakai untuk menembus birokrasi, jaringan bisnis, panggung politik nasional, ruang akademik. Siri' na pesse/pacce tetap bekerja dalam diam, mengatur siapa yang boleh malu pada siapa, dan untuk apa seseorang patut mempertaruhkan dirinya. 

Kini, Ininnawa datang menginterupsi nawa-nawa, sebagai cara pikir dan cara ungkap. Dulu pusaka pembelah kosmos kini menjadi kompas batin, Ininnawa, yang memandu cara membaca ketidakadilan dan cara mempertahankan martabat. 

Mungkin di situlah letak ironi yang paling halus: Gajang yang dipaksa diam selama tiga abad ternyata tak pernah sungguh-sungguh tunduk. Ia hanya berpindah tempat tinggal. Dari pinggang, ke pikiran.

                                                                                                                                                                                

Pattallassang, 17 Mei 2026

Catatan Kaki:

[1]  MAGIS bukan sekadar akronim. Ia adalah kerangka baca pengetahuan setempat yang lahir dari dalam, bukan dipinjam dari luar. Secara ontologis, ia menolak batas antara yang kasatmata dan yang tak teraba: tubuh dan pikiran, wangkang dan ininnawa, besi dan sumangeq, semuanya saling menghidupi dalam satu sistem yang utuh. Makassar-Bugis di sini bukan penanda etnis atau geografis semata, melainkan cara berada di dunia. Secara epistemologis, MAGIS merekam lima momen ketika subjek berhadapan dengan krisis. Pertama, luka tidak dipendam melainkan diubah menjadi daya, inilah Materialisasi. Kedua, nalar melepaskan kendalinya dan menyerahkan diri pada dorongan yang lebih dalam, inilah Agensi. Ketiga, ketegangan pecah menjadi konfrontasi terbuka demi mempertahankan martabat, inilah Gejolak. Keempat, struktur yang menindas didobrak dari dalam, inilah Intervensi. Kelima, energi yang semula destruktif dialirkan menjadi fondasi peradaban baru, inilah Sublimasi. Lima siklus itu tidak bergerak lurus. Ia berputar, seperti arus yang mengenali dirinya sendiri.

[2] Dalam semesta La Galigo, nawa-nawa yang memutus diri dari ininnawa bukan tanda kejeniusan. Itu tanda ketersesatan. Nalar yang melangkahi Pémali bukan karena tidak tahu, melainkan karena merasa tidak perlu, telah kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya berharga: kemampuan mendengar yang lebih tua dari bahasa. "Jangan kita tinggal menanggung kesusahan bersama orang yang terlalu dungu berpikir itu, orang yang terlalu bodoh di dalam hati." (I La Galigo Jilid X, hlm. 73–74). La Galigo tidak memuliakan agresi. Setajam apapun taktik seorang raja, jika Pesse' sudah padam dan Pémali sudah dianggap beban, naskah mencatatnya bukan sebagai pemenang. Ia dicatat sebagai orang yang dungu di dalam hati.

[3] Filsafat MAGIS tidak datang untuk berdialog dengan Descartes. Ia datang untuk membongkarnya. Pemisahan pikiran dan tubuh yang selama berabad-abad dianggap sebagai fondasi berpikir di Barat, dalam kerangka Makassar-Bugis, tidak pernah ada. Ininnawa dan nawa-nawa bukan dua kutub yang saling menjaga jarak. Keduanya bergerak dalam satu arus: rasa yang menjelma nalar, nalar yang memanggul rasa. Pikiran bukan abstraksi yang melayang di atas tubuh. Ia bisa membenda, bisa melukai, bisa membangun. Begitu pula sebaliknya. Badik bukan besi mati yang menunggu tangan. Wangkang bukan kayu dan layar semata. Di dalam keduanya hidup sumangeq, roh yang bernapas, yang memiliki kehendak. Maka ketika martabat terkoyak, senjata pusaka tidak perlu diperintah. Ia bergerak atas kesadarannya sendiri, karena ia dan pemiliknya sudah lama menjadi satu. Inilah yang diruntuhkan MAGIS: batas palsu antara subjek dan objek, antara gagasan dan benda, antara luka batin dan wujud yang meresponsnya. Dalam kosmologi ini, kedaulatan bukan sekadar konsep politik. Ia adalah keseimbangan yang dijaga bersama oleh yang terlihat dan yang tak terlihat, oleh yang berpikir dan yang diasah.